
Foto: Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, dilaporkan meninggal dunia diduga dianiaya senior. (Istimewa)
Kerangsatu.com, Asahan - Kabar duka datang dari Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Seorang prajurit TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan tugas negara. Almarhum merupakan putra dari Zakaria Marpaung dan Marsinah Silalahi, warga Dusun 4, Desa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, serta dikenal sebagai alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Kepergian Pratu Farkhan menyisakan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan dan jaringan alumni IMM. Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya almarhum dengan ungkapan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Menurut keterangan keluarga, Pratu Farkhan merupakan prajurit lulusan Tamtama TNI Angkatan Darat tahun 2020. Ia mengawali penugasan militernya di Batalion Infanteri 115 Iskandar Muda, Aceh, sebelum akhirnya dipercaya mengikuti Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini.
Penugasan tersebut merupakan salah satu misi strategis TNI dalam menjaga kedaulatan wilayah negara. Namun, di balik tugas mulia tersebut, keluarga menyebut adanya dugaan peristiwa tragis yang berujung pada meninggalnya Pratu Farkhan.
Pihak keluarga mengungkapkan dugaan bahwa Pratu Farkhan meninggal dunia akibat tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh seniornya. Dugaan ini semakin menguat lantaran disebutkan bahwa kekerasan tersebut terjadi saat kondisi almarhum sedang dalam keadaan sakit.
Informasi tersebut menimbulkan keprihatinan luas dan memicu desakan agar kasus ini tidak berhenti pada kabar duka semata, melainkan diusut secara menyeluruh dan transparan.
Fokal IMM Asahan Kutuk Keras Dugaan Kekerasan
Menanggapi hal tersebut, Fokal IMM Kabupaten Asahan mengambil sikap tegas. Ketua Fokal IMM Asahan, Imran Ariadin, menyampaikan kecaman keras terhadap segala bentuk kekerasan, terlebih jika terjadi dalam lingkungan yang menjunjung tinggi disiplin dan kehormatan.
“Setiap bentuk kekerasan adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan martabat individu. Tindakan semacam ini tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan serta hukum di Indonesia,” tegas Imran.
Ia menekankan bahwa dugaan kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang harus menjadi perhatian serius semua pihak.
Fokal IMM Kabupaten Asahan secara resmi mendesak aparat berwenang agar mengusut tuntas kematian Pratu Farkhan Marpaung. Mereka meminta agar seluruh fakta dibuka ke publik dan tidak ada upaya menutupi kebenaran.
Selain itu, Fokal IMM juga menuntut agar terduga pelaku diproses melalui mekanisme hukum militer yang adil dan transparan, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pembentukan tim investigasi khusus dinilai penting untuk memastikan penyelidikan berjalan objektif dan menyeluruh.
Sikap tegas ini, menurut Fokal IMM, merupakan bagian dari komitmen moral dalam membangun budaya anti kekerasan, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Imran juga mengajak seluruh alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di berbagai daerah untuk bersatu, menunjukkan solidaritas, dan mengambil peran aktif dalam menolak segala bentuk kekerasan, khususnya yang terjadi di lingkungan institusi negara.
“Ini bukan hanya soal satu orang, tetapi soal kemanusiaan dan keadilan. Kita harus bersama-sama mengawal agar kasus ini terang benderang,” ujarnya.
Meninggalnya Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menjadi pengingat penting bahwa keadilan dan kemanusiaan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Keluarga, rekan, dan masyarakat kini menaruh harapan besar agar aparat penegak hukum mampu mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi almarhum.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi serius agar praktik kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak lagi terjadi dan tidak terulang di masa mendatang.
Penulis : Indra Sikoembang.
Editor : Indra Sikoembang.