Karya Tari Budaya Simalungun Ciptaan Seniman Asahan Siap Tampil di Taman Budaya Medan

 

Foto: Karya tari berjudul “M.A.R.T.O.L.U Sa Odoran” yang mengangkat kekayaan budaya Simalungun. (Istimewa) 

Medan, Kerangsatu.com – Sebuah karya tari yang mengangkat kekayaan budaya Simalungun akan segera dipentaskan di Kota Medan. Pertunjukan tersebut merupakan karya seniman asal Kabupaten Asahan, Desy Wulan Pita Sari Damanik, yang dijadwalkan tampil pada 23 Mei 2026 di Taman Budaya Medan.

Karya tari berjudul “M.A.R.T.O.L.U Sa Odoran” ini mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Simalungun yang sarat dengan nilai kebersamaan, kekerabatan, dan keharmonisan sosial. Melalui pertunjukan tersebut, Desy berupaya menghadirkan interpretasi artistik terhadap konsep budaya yang telah lama hidup dalam masyarakat.

Desy yang juga merupakan dosen di Universitas Negeri Medan dikenal aktif mengembangkan seni tari berbasis riset budaya. Dalam proses penciptaan karyanya, ia kerap memadukan unsur tradisi dengan pendekatan koreografi kontemporer sehingga menghasilkan pertunjukan yang tetap berakar pada budaya lokal namun relevan dengan perkembangan seni modern.

" Karya ini terinspirasi dari nilai-nilai Tolu Sahundulan dan Lima Saodoran, dua konsep penting dalam filosofi masyarakat Simalungun yang menggambarkan hubungan sosial serta keseimbangan peran dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya kepada wartawan, Selasa (11/3/2026).

Selain itu, pertunjukan ini juga mengambil inspirasi dari Hiou, kain tradisional khas Simalungun yang memiliki makna simbolis dalam berbagai fase kehidupan masyarakat. Dalam pementasan tersebut, Hiou tidak hanya ditampilkan sebagai kostum, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan, doa, serta perjalanan hidup manusia.

"Melalui komposisi gerak tari, karya ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sejak lahir hingga mencapai tahapan kehidupan yang lebih tinggi. Nilai-nilai kekerabatan seperti hubungan antara Tondong, Sanina, dan Boru divisualisasikan dalam rangkaian koreografi yang dipadukan dengan elemen simbolik budaya," tambahnya.

Dalam proses kreatifnya, Desy tidak bekerja sendiri. Ia menggandeng sejumlah seniman dari berbagai daerah untuk memperkuat konsep artistik pertunjukan. Kolaborasi tersebut melibatkan Russel Akbar Fauzi dari Sumatera Barat dan Tifan Muhammad Amirulloh dari Jawa Barat, serta sejumlah seniman lokal dari Kota Medan.

Kerja sama lintas daerah ini diharapkan mampu memperkaya sudut pandang artistik sekaligus memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan kepada penonton.

Pertunjukan tari tersebut juga merupakan bagian dari program hibah Dana Indonesiana 2026 yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini bertujuan mendukung para seniman dalam menciptakan karya kreatif sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan di Indonesia.

Melalui pementasan ini, Desy berharap nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Simalungun dapat terus dikenal dan diapresiasi oleh generasi muda. Ia juga ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap memiliki ruang untuk berkembang dan tampil dalam bentuk seni pertunjukan yang inovatif di era modern.

Penulis : S Marpaung.
Editor : Dhan.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال