Asahan, Kerangsatu.com - Lahan kosong yang sebelumnya terbengkalai di Nagori Dusun Pengkolan, Kecamatan Bosar Maligas, Asahan, kini mulai dimanfaatkan menjadi kebun pangan.
Perubahan itu digagas mahasiswa Universitas Asahan (UNA) yang tergabung dalam KKN Kelompok 12. Tak hanya mengolah lahan, mereka juga membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat memperluas pemasaran dengan memanfaatkan teknologi digital.
Kegiatan KKN tersebut mengangkat tema "Penguatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa Berbasis UMKM, Koperasi, dan Digitalisasi Masyarakat."
Selama menjalankan program di Nagori Dusun Pengkolan, para mahasiswa memetakan sejumlah potensi dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan lahan kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Mahasiswa kemudian mengajak masyarakat membersihkan dan mengolah lahan tersebut untuk dijadikan area bercocok tanam. Berbagai tanaman pangan, termasuk sayuran dan bumbu dapur, mulai ditanam di lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Koordinator program, Andre Utama, mengatakan pemanfaatan lahan tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi lingkungan sekitar.
"Kami ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa lahan sekecil apa pun bisa memberikan manfaat besar jika dikelola dengan baik. Ini adalah langkah awal menuju kemandirian pangan," ujar Andre Utama.
Menurutnya, kebun percontohan tersebut bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Program itu juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar mampu memanfaatkan lahan yang tersedia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
UMKM Dusun Pengkolan Dibawa ke Google Maps
Tak hanya berkutat pada sektor pertanian, mahasiswa KKN UNA juga membidik sektor UMKM yang dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sejumlah pelaku usaha di Nagori Dusun Pengkolan telah memiliki produk yang berpotensi dipasarkan lebih luas. Namun, keterbatasan promosi dan pemasaran menjadi salah satu kendala yang dihadapi.
Mahasiswa kemudian memberikan pendampingan digital dengan membantu mendaftarkan UMKM ke Google Maps.
Dengan cara tersebut, keberadaan usaha warga diharapkan lebih mudah ditemukan calon konsumen melalui mesin pencarian digital. Informasi mengenai nama dan lokasi usaha juga dapat diketahui masyarakat yang berada di luar Nagori Dusun Pengkolan.
"Dengan digitalisasi, usaha warga tidak hanya dikenal oleh tetangga, tetapi juga oleh orang luar desa yang mencari produk lokal. Ini adalah jembatan menuju pasar yang lebih luas," jelas salah satu mahasiswa tim digitalisasi.
Upaya memperkuat pemasaran UMKM juga dilakukan secara konvensional. Mahasiswa membantu memasang spanduk pada sejumlah gerai usaha warga.
Spanduk menjadi penanda fisik bagi pelanggan yang melintas, sedangkan Google Maps menjadi etalase digital yang dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Kombinasi kedua metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan visibilitas, kredibilitas dan daya saing UMKM di Nagori Dusun Pengkolan.
Rektor UNA Apresiasi Program KKN
Rektor Universitas Asahan, Assoc. Prof. Dr. Mangaraja Manurung, S.H., M.H., memberikan apresiasi terhadap program yang dijalankan mahasiswa KKN Kelompok 12.
Menurutnya, program ketahanan pangan dan digitalisasi UMKM menunjukkan bahwa KKN dapat menjadi sarana mahasiswa menerapkan ilmu sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
"Kegiatan KKN bukanlah sekadar formalitas akademik, melainkan panggilan jiwa untuk mengabdi dan memberikan dampak nyata. Saya berharap mahasiswa dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat, sehingga desa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada," ujar Rektor.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti setelah masa KKN selesai. Menurutnya, konsep yang telah dijalankan mahasiswa dapat dikembangkan dan diterapkan di wilayah lain.
"Jangan pernah lelah untuk terus belajar dari masyarakat, karena di sanalah ilmu kehidupan yang sesungguhnya," pungkasnya dengan penuh haru.
Dekan FEB Dorong Transformasi UMKM
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNA, Dr. Tengku Syarifah, S.E., M.Si., turut menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia berharap kehadiran mahasiswa tidak hanya memberikan manfaat bagi warga, tetapi sekaligus memperkenalkan UNA sebagai institusi pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
"Kami berharap para mahasiswa memperkenalkan UNA sebagai lembaga pendidikan yang hadir dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, mulai dari membantu perekonomian rumah tangga hingga memajukan usaha kecil di desa," ujar Dr. Tengku Syarifah.
Ia menilai digitalisasi UMKM merupakan langkah konkret yang sejalan dengan transformasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNA di tengah perkembangan teknologi.
"Transformasi ini adalah bagian dari upaya peningkatan mutu dan relevansi pendidikan. Kita ingin FEB UNA menjadi fakultas strategis yang mampu mencetak lulusan unggul dan berdaya saing tinggi," tegasnya.
DPL Pastikan Program Tak Berhenti Saat KKN Usai
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 12, Bima Hardi, S.M., M.E., mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Ia mengapresiasi mahasiswa yang dinilai mampu mengidentifikasi persoalan sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan di lapangan.
"Saya sangat mengapresiasi inisiatif dan semangat mahasiswa yang tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah di desa, tetapi juga bergerak cepat mencari solusi konkret. Program pengolahan lahan dan digitalisasi UMKM ini adalah bukti bahwa mereka mampu menerapkan ilmu perkuliahan secara aplikatif untuk memecahkan persoalan riil masyarakat," ujar Bima Hardi.
Menurut Bima, pendekatan partisipatif menjadi kunci agar program yang dirintis mahasiswa dapat dilanjutkan warga.
"Kami selalu menekankan kepada mahasiswa untuk bekerja dengan pendekatan partisipatif. Mereka harus menjadi bagian dari masyarakat, bukan sekadar tamu. Saya melihat mereka mampu membangun kepercayaan dan kolaborasi yang kuat dengan warga, yang merupakan kunci utama keberlanjutan program ini setelah KKN usai," jelasnya.
Ia juga menilai digitalisasi memberikan peluang baru bagi UMKM lokal untuk memperluas pasar.
"Di era digital ini, kita tidak bisa membiarkan UMKM lokal tertinggal. Dengan bantuan mahasiswa, para pelaku usaha kini memiliki etalase digital. Ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk desa," tutupnya.
Warga Didorong Lanjutkan Program
Program KKN tersebut berjalan dengan melibatkan masyarakat setempat. Mahasiswa bertindak sebagai fasilitator, sementara keberlanjutan program diharapkan berada di tangan warga.
Kebun percontohan yang telah dibuat diharapkan terus dirawat dan dikembangkan. Di sisi lain, pelaku UMKM didorong untuk konsisten memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi dan pengembangan usaha.
Andre berharap semangat kolaborasi yang telah dibangun selama pelaksanaan KKN dapat terus berlanjut meski mahasiswa nantinya meninggalkan lokasi.
"Kami berharap semangat yang telah kami tanamkan terus berkobar. Desa ini memiliki masa depan yang cerah jika kita mau bekerja sama dan memanfaatkan apa yang ada," pungkas Andre Utama.
Program tersebut menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Pemanfaatan lahan kosong dan penggunaan teknologi sederhana untuk mempromosikan UMKM dapat menjadi awal bagi perubahan ekonomi di tingkat desa.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, potensi lokal di Nagori Dusun Pengkolan diharapkan tidak hanya menghasilkan kebun pangan, tetapi juga membuka jalan bagi UMKM untuk tumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas. (SM)
